Nonton (Post yang Terendapkan) *maapkeun

Hai, Beta! Maafkan kealpaanku selama hampir satu bulan ini. Sudahlah. Allah saja yang menjadi pencipta langit, bumi, dan di antara keduanya Maha Pemaaf, apalagi kamu yang hanya menjadi ciptaan-Nya.

Sungguh. Aku tidak bermaksud menjadi orang yang permisif. Hingga detik ini, aku masih menjadi manusia yang berusaha merealisasikan wacana dan komitmenku sendiri. Hanya saja, ada banyak hal yang membuatku terlalu kesulitan untuk menulis, menyampaikan apa yang aku tulis, maupun menulis apa yang ingin kusaampaikan. Percayalah, Beta. Tak pernah ada alasan untuk berhenti berjuang menegakkan syariat dalam kehidupan.

Waah… Foto ini sudah mengendap sebulan kurang empat hari di draft. Beberapa pekan sebelumnya aku menceritakan padamu tentang Cinderela. Kali ini aku ingin bercerita tentang… Sebut saja Rapunzel. 

*Kenapa aku memberinya randomly initial? That’s just what I want. I have no special/philosophical reason. 
Jadi ceritanya saat itu, Rapunzel sedang sedih. Entah kenapa. Maka, kami memutuskan untuk nonton ke Rajawali. Film pilihan kali ini adalah Sabtu bersama Bapak. Kami tiba dengan waktu mepet shalat dan mepet filmnya akan dimulai. Jadilah Rapunzel Shalat dulu dan aku beli tiket. *jangan nanya kenapa Mawar nggak shalat!

Tamtaraaam!!!! Sisa tiket tinggal 4 dan menyebar di setiap sudut. Mana bisa kita duduk berdampingan layaknya dua manusia yang nggak keliatan jomblo-jomblo amat. Saat itu, aku seperti Presiden Indonesia yang harus memutuskan persengketaan rakyat, padahal UUDS masih diperdebatkan oleh para tokoh bangsa sejak berbulan-bulan lalu. Dalam keadaan segenting ini, aku harus membuat perpu #eh maksudnya aku harus membuat keputusan dalam keadaan ditinggal Shalat Rapunzel. Keputusanku detik itu akan merepresentasikan keputusan kami.

Tapi bagaimana? 

Ingin kubatalkan karena nonton tanpa temen ngobrol pasti nggak asik banget, apalagi kalo sebelahnya orang pacaran. Nggak baper si, nggak iri juga. Cuma ngga seru aja #UdahGituAja

“Oke! Batal, Mba!” Kataku pada mba-mba tiket. Sigh! Tiba-tiba aku memikirkan bagaimana upaya keras Rapunzel untuk datang ke mari, betapa Ia sangat ingin nonton. Karena selain faktor turun layar, kapan lagi kita sempet nonton? Udah mau pada semhas euy!!!

“Mba. Jadi. Mau dua. Kursinya mmmmm….” Mikir sekitar 10 detik, “yang ini sama yang ini aja.” Sambil nunjuk 2 kursi yang terpisah sebanyak entah 2 baris atau dua kolom. Itu kursi terdekat yang bisa kami jangkau, yang dua lainnya ujung pojok2 gitu. Well! In the end presiden telah membuat perpu yang bijak #IniApaLagi 😀

“Zel, Kursi kita kepisah jauh.” 

“Loh kok bisa.”

“Iya. Tiketnya udah mau abis.”

Kira-kira begitu percakapan kami. Sambil masuk dan mengira-ira agar dapat melobi orang untuk bertukar tempat duduk dan kami bisa duduk berjejeran dududu~… 

Namun kenyataan berkata lain. Zel duduk di samping adek-adek usia SD yang kemungkinan berkomplot dengan dua kakaknya. Nasibku mengenaskan, sisi kanan ada sepasang kekasih, kirinya sepasang sahabat sejati yang nampaknya masih bermuka siswi SMA. 

“Kraus … Kraus…” Jadi gini toh rasanya nonton ditemenin popcorn aja sama teh botol plastik merk bukan teh botol.

Sekarang kritikus film amatiran akan memberikan ulasan mengenai bagian menarik dari film ini *buka tirai ala sirkus*

Sebenernya alur utamanya nggak menarik, cerita sebuah keluarga bahagia. Sepasang suami istri yang memiliki dua anak laki-laki. Ayah divonis dokter akan meninggal pada hari H karena suatu penyakit mematikan. Sebelum meninggal, sang ayah menyiapkan kaset berkopi-kopi, kemudian dititipkam ke sang Ibu agar diputar di depan anak-anak setiap hari sabtu. Gituuu mulu sampe anaknya lulus sekolah dengan prestasi berlimpah.

Sang kakak suka sama seorang mba-mba cantik, LDR’an 3 tahun apa ya kalo ngga salah, trus nikah dan tinggal di Jerman kayanya. Kisah rumah tangga mereka tidak terlalu menarik menurutku.

Saka, Sang adik kerja di perusahaan Indonesia gitu dan jadi jones yang selalu diledekkin karyawannya gara-gara ngga pernah punya pacar dan ngga tertarik buat pacaran. Ya kalo usaha cari pacar biar kaya orang jaman sekarang si iya, tapi gagal mulu. Ya udah deh pasrah aja dengan kejonesannya, meski sang Ibu selalu bertanya, “mana calonmu? usiamu itu udah…….”tak hanya itu, Ibunda tercintapun sudah berulang kali memperkenalkannya dengan mba-mba temen-temennya, tapi nggak cocok. Emang bukan jodoh mau gimana lagi.

Hingga suatu ketika, Saka jatuh cinta pada Ayu, seorang pemilik sepatu. Ia bukan pemilik sepatu sembarangan, karena sepatunya senantiasa mejeng di rak sepatu depan mushola setelah Ia shalat. Lelaki ini yakin bahwa Ayu adalah wanita sholihah yang akan menjadi istri idealnya. 

Awalnya, Ayu nolak Saka gitu. Bahkan sampe udah punya mas-mas lain yang keliatannya menurut Ayu lebih lumayanlah dari Saka Si Konyol itu. Tapi alhamdulillah Ayu sama mas-mas lain itu belum sampe jadian kok.

Hingga sekelumit cerita ribet membuat mereka nyaman mengobrol, bertemu di satu titik tanpa kekonyolan yang dibuat-buat. 

Aku suka dengan pernyataan Saka yang intinya gini, ” aku mau serius sama kamu. Aku nggak mau hubungan kita ngalir aja, atau istilah mainstreamnya jalani dulu. Aku nggak mau kita kaya pasangan rata-rata yang asasnya saling melengkapi. Kalo kaya gitu ya sama aja misal kamu hemat, aku boros, aku akan menghabiskan tabunganmu, atau kalo kamu sholehah aku nggak sholeh, aku akan menyeretmu ke neraka. Untuk membangun keluarga yang kokoh, kita harus sama-sama kuat.” Mungkin hal itulah yang membuat Ayu memilih saka.

Kau tahu, Beta? Aku jadi ingat diskusi dengan Kak Ray sebelum kormades itu berangkat KKN.  Kesimpulannya adalah jika ingin memilih teman seperjalanan untuk di ajak ke langit ke tujuh melalui tangga ketaqwaan, maka kita harus memilih orang yang berada di tangga yang sama, karena mengejar dan dikejar itu sama-sama menghabiskan energi…

Akhirul kalam, astaghfirullahal’adzim..

Selamat tidur, Beta 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s