Anomali

Hei, Beta!!! 

Terima kasih atas nasihatmu semalam. 

Kamu seperti membuat semua yang kuinginkan menjadi nyata ketika bertanya, “Gimana? Buku-buku udah diberesin? Udah di list buku apa pinjem siapa, siapa aja yang pinjem buku kamu + buku apa yang mereka pinjem, kamu pernah janji apa ke orang, mulai list dan tepati. Lunasi hutang-hutang, selesaikan semua urusan. Jangan sampai ada muamalah yang terlewat di dunia dan berat di akhiratnya. Sebentar lagi kamu tidak di Purwokerto kan?”

“Apa kamu mengusirku dari kota ini? Apa aku akan segera pergi dari sini?”Tanyaku heran.

“Eh sekarang udah november kan? UTS udah kelar kan? Waah…. Bentar lagi UAS looh.. dan nggak lama lagi kamu bisa ndaftar pendadaran ples yudisium habis new year. Siapin semuanya dari sekarang” Kenapa jadi Beta yang heboh sendiri?

“Kamu yakin, Beta?”

“Kamu harus lebih yakin. Yakin bahwa Allah pasti menggariskan takdir yang jauh lebih indah dari sebelumnya.”

Aku tersenyum. Kemudian mengaminkan doa yang Beta susun sedetail itu. Beta adalah orang yang paling pandai merangkai mimpi, Ia menentukan tujuan utama, jalan-jalan alternatif yang lebih cepat, kendaraaan sampai plat nomornya, bahkan sampai belokkan, pohon-pohon, dan gang-gang kecil yang sangat sempit dengan selokan di tepinya. 

Saking niatnya Beta meyakinkan diri ini tentang mimpi  yang sudah kutulis, ia sampai menanyakan, “siapa orang pertama yang kamu rindukan setelah wisuda nanti?”

“Karmila!” Jawabku spontan

“Ciyeee temen kosan. Manusia yang bikin kamu abnormal dan ngerasa nggak normal ketika kamu manggil dia sayang atau kamu mengakui ke-so sweet-an kisah kalian. Hahaha…”

Yaa… Hubungan kami memang seperti volume air ketika beku. Anomali. Contohnya sore kemarin….

M (Mawar)

K (Karmila)

M : “Karmilaaaaaaaaaaaaa…… Makan!!!!! laper! Sana kamu beli makan. Udah makan belum?”

K : “Belum…” (Sibuk. Sok sibuk dink main entah hape maupun leptop)

M : “Mageer… Kamu beli makan sana!”

K : “Gamau. Kamu aja sana yang beli. aku nitip.” (Sambil ngasih duit. Masih liat layar laptop).

M : “Gamau… Kamu aja. Kan aku dulu yang nitip!!!” 

K : “Iiiih kamu ngganggu…  Sana buru beli makaaan, aku nitip nii” (Sekarang duitnya digeser makin deket).

Yaaaa intinya gitu deh… Setelah mereka ribut mau beli makan di hejo atau gang nangka, setelah perdebatan pelik siapa yang mau nitip dan beli makan. Akhirnyaaaa  … Karmila nitip makan ke Mawar, endingnya Mawar beli magelangan di abang burjo samping kosan. Sekian.

Beta terpingkal mendengar ceritaku. Mengobrol dengan Beta itu seperti menyalakan kembali visi yang sempat meredup dan hendak padam. Well! Kemampuan manusia hanya sampai  pada tahap rencana serta ikhtiar terbaik. Allah menjadi sebaik-baik yang  menentukan hasil akhirnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s