Aku Bisa Apa?

Perempuan itu masih memandang langit yang setiap jam delapan pagi selalu menyajikan hamparan biru. Jilbab panjangnya dibelai anging sepoi-sepoi. Perlahan Ia menarik nafas panjang, melepaskan hembusa nafas tersebut, sambil memejamkan mata, “astaghfirullahhal’adziim…” bisiknya pada diri sendiri, seolah mencoba melepas segenap beban pikirannya.

“Langit…” Ia tiba-tiba memanggilku yang sedang asik memotret beberapa serangga polinator si sekitar kami.

Aku segera mengarahkan kamera digitalku ke wajahnya. Sigap. Perempuan yang tak pernah sudi mengupload fotonya di media sosial manapun itu segera menutup lensa kameraku dengan telapak tangannya. Senyumnya masih merekah seindah mentari pagi.

Namanya Aglaia frustescens. Semua orang memanggilnya Lala. Pagi ini kami jogging di GOR Soesoe (Gelanggang Olahraga Soesilo Soedirman), “Aku memahami nama Soedirman di sini. karena Gor ini memang milik Universitas Jenderal Soedirman. Kita sudah semester sembilan, La. Hingga kini masih saja belum tau dari mana Pak Soesilonya? Apakah Gor ini dibangun ketika pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono? Wallahua’lam.”

Lala tersenyum tipis menanggapi kegaringanku. Ia menggandeng tanganku ke tepi stadion. Lautan Cyperus rotundus masih dibasahi sisa-sia air hujan semalam, jam delapan pagi belum juga menggerakkan matahari untuk mengeluarkan radiasi panasnya secara maksimal bulan ini.

“Soal semalam … ” Langit kembali menyinggung masalah itu. Aish! Nampaknya jogging Sabtu pagi ini benar-benar  akan menjemukan.

“Hmmm …” Responku, “Bagaimana keputusanmu?” Tanyaku kemudian.

“Aku memutuskan untuk bersedia menjadi teman seperjalanannya.”

“Apa?” Aku kaget, tidak ingatkah Langit dengan nasihatku semalam? Aku telah memberinya macam-macam pertimbangan matang dan alasan selogis mungkin untuk memikirkan keputusannya baik-baik. Aku sudah memberi gambaran mengenai bagaimana konsekuensi yang harus Ia hadapi jika mengambil keputusan sefatal ini.

“Ia meyakinkan aku.” Katanya.

“Kamu yakin?” Aku masih ingin memastikan.

Langit tertunduk. Diam. Suasana menjadi kaku dan krik-krik. Hening. “Iya.” Jawabnya tanpa keraguan sedikitpun di raut mukanya.

Aku masih tak habis pikir. Mahasiswi calon sarjana ekonomi ini akhirnya memilih Mahasiswa calon Master Sains dari Fakultas Biologi. Bagaimana mungkin mapres fakultas ekonomi memilih anak biologi? Salah satu spesies yang senantiasa kita bully dan tertawai ketika mata kuliah ekonomi pembangunan itu benar-benar akan menjadi pendamping hidup Lala.

“Apa yang membuatmu yakin?”

“Mmm.. Ia tidak menawarkan  kemewahan dan kehidupan yang menyenangkan di dunia. Lelaki itu  memberi sebuah tawaran yang jauh lebih menarik dari semua itu.”

“Tawaran apa?”

“Ia meminta kesediaanku untuk berjuang bersamanya dalam kesederhanaan, mengorbankan segalanya di jalan dakwah hingga syahid.”

“Lalu?”

“Aku bisa apa?” Lala kembali memandang biru yang menghampar seolah tanpa batas itu, “Aku tak kuasa menolaknya.”

“Setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi, sebesar apapun konsekuensi yang harus dihadapi, bagaimanapun rumitnya pilihan yang  kamu ambil, harus tetap dihargai. Barakallahulaka wa baraka ‘alayka wa jam’a baynakuma fii khayr” Iya. Aku harus menghargai pilihan sahabatku, karena hanya Allah yang berkenan menggerakkan hati-hati hamba-Nya untuk bersepakat menempuh hidup baru bersama.

“Aamiin…” Lala memelukku erat, “Jazakillah … kamu yang pertama mengucapkan doa itu.”

Aku membalas pelukannya. Erat.Tak peduli aroma yang menunjukkan bahwa kami baru mengeluarkan berliter-liter keringat setelah dua belas kali memutari gor satria. Beberapa saat kemudian Lala melepas pelukkannya, begitupun aku.

“Langit, aku menunggu kisahmu. Aku menunggu kamu menceritakan topik yang sama seperti yang kuceritakan semalam.”

Kini aku yang tersenyum tipis, “…dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang, dan Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan.” Cyperus rotundus masih saja basah ketika aku memuroja’ah surat al-munafiqun ayat 11 itu, “tidak usah ditunggu jika penantian itu melelahkan, Lala. Nanti juga tiba saatnya. Saat yang tiba secara tak terduga seperti kematian. Kita tak pernah tau kapan malaikat maut akan menjemput. Seperti kita tak pernah tau kapan Allah akan menggerakkan sebuah hati untuk menjadikan kita teman seperjalanannya.” Kataku sambil terus memperhatikan  air yang menempel pada Cyperus rotundus mulai menguap oleh sinar matahari, perlahan-lahan, membuat permukaan daunnya semakin kering.

“Semoga Allah mempertemukan tulang-tulang yang berserakan di dunia, semoga kasih yang akan dirajut dalam bingkai syariat di dunia ini juga ikut terbang ke akhirat nanti. Semoga Allah segera menggerakkan hatimu dan hatinya, yang entah siapa dan di mana saat ini, untuk menempuh jalan cinta para pejuang, menapaki marotibul amal selanjutnya. Meletakkan batu-batu peradaban untuk menyongsong kejayaan islam.”

“Aamiin …” Di balik  satu kata itu, ada sebuah kegelisahan. Bukan gelisah akan takdir-Nya yang belum juga menghampiriku. Aku menggelisahkan hal ketika nanti Allah menggariskan takdir tersebut. Iya. Jika Allah sudah berkehendak, siapa yang bisa menolak? Namun bukan itu. Aku takut tak kuasa menolak dalam keadaan yang masih belum lebih baik dari sekarang. Ya rabb, peliharalah hamba-Mu dalam taqwa dan titik istiqomah, berilah taufiq dan hidayah pada jiwa yang lemah ini untuk selalu meningkatkan kualitas diri dan mengasah kekuatan dalam meniti jalan cinta-Mu. Jangan sampai rinduku pada seseorang yang telah Engkau tulis di lauhul mahfudz itu melebihi rinduku untuk menghadap-Mu dalam keadaan khusnul hotimah. Jagalah selalu hati-hati kami dalam naungan cinta-Mu.

Kisah ini adalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tokoh, tempat, dan peristiwa maka semua itu hanya kebetulan. Ambil saja hikmahnya walau sedikit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s