Apa iya?

Sudah kubilang. Jangan menulis mimpi. Berbahaya. Apalagi jika membuatmu terpuruk karena mimpi yang katanya anugerah itu hanya angan kosong.

Apa iya?

Apa kamu harus tersesat dulu

Untuk mengetahui hakikat kebenaran

Apa kamu harus masuk jurang dulu?

Untuk mengetahui arti penting dan indahnya pemandangan di bawah sana dari puncak?

Apa iya?

Apa kamu harus berputar-putar dulu?

Apa kamu harus tersesat bertahun dulu, untuk menguatkan keyakinanmu akan mimpi, untuk kembali ke titik awal dibuatnya mimpi itu, kemudian menyusun langkah-langkah kecil dengan serpihan keyakinan yang makin menguat itu, untuk mewujudkan mimpimu.

Dari jarak yang sangat jauh ini, mampukah kamu berlari mengejar mimpi-mimpimu?

Advertisements

Hihi…

(Meski) Sebait Haiku

Malam yang hening

Pekat tanpa cahaya

Dan tanpa kamu

“Menulislah setiap hari, meski hanya sebait haiku.” Kata Beta via line. Handphone ku kembali mati. Seharian ini benda kotak itu hanya menyala kurang lebih tiga puluh detik, si empunya tidak peduli. Toh! Tak ada hal mendesak yang membuatku harus memandangi layar ukuran beberapa inchi itu dengan intensif.

Ada tanggungjawab yang harus diselesaikan. Iya. Mawar harus mempertanggungjawabkan pilihannya, menyelesaikannya hingga titik finish! 

Semoga Allah menguatkan, memudahkan, melancarkan, memberi berkah pada ilmu yang selama ini ditimba.

Hikayat Mimpi

Kau tahu imaji? Kau tahu awan?

Kau tahu imajinasi setinggi awan?

Iya. Jatuhnya sakit. Karena di atas sana tidak ada pegangan, meski hanya seuntai benang. Menulis mimpi itu terkadang berbahaya. Sungguh.

Jika gagal, mimpi itu justru akan menjatuhkanmu ke titik nadir. Menyerap habis seluruh semangat hidupmu. Memudarkan segenap kepedulianmu pada diri sendiri. Menenggelamkanmu dalam penyesesalan.

Lebih gawat lagi jika kamu semakin jauh dari mimpi, Tuhan justru menggodamu. Membisikimu dengan mimpi-mimpi. Hingga kamu merasa menjadi gila untuk mewujudkannya.

Bukan mimpi kalau tidak muluk-muluk…
*critanya lagi latian bikin prosa 😀

Baik – Baik Saja

Perkenalkan. Namanya Radith. Sebuah tokoh di Webtoon We Are Pharmacist.Ketua kelas. Jika aku netizen komsat di kampus buatan Kak Qoni itu (Kak Qoni adalah Sang Author), mungkin aku adalah orang paling bersemangat yang akan merekrutnya ikut DM 1 entah dalam bentuk apa *DM 1 = Dauroh Marhalah 1, semacam training luar biasa yang melahirkan para pemimpin *eaaak. 

Ia adalah karakter utama. Meski Idaman para perempuan di komik ini adalah Putra, sesosok lelaki yang konon ganteng sampai 3 pria berwarna biru nyinyir padanya karena si Putra ini memonopoli seluruh perempuan untuk menjadi fansnya (padahal yaa cewe2 itu sendiri yg voluntary jadi fansnya, Putra mah biasa aja sama fans clubnya). 

Radith selalu tampil dengan keramahan, kejenakaan, dan kepatuhannya pada sebut saja F.N. sebuah inisial yang diberikan kepada Ketua (Ketua apaaan? Ketua Ospek). Kak Qoni pernah memberi tau siapa namanya di webtoon challenge, tapi aku lupa. Haha…

Hal yang cukup menarik adalah Qoni itu terkadang suka terlibat dan masuk secara dalam kisah yang Ia tulis. Jadi kocak gitu. Kemudian semena-mena menciptakan indikasi skandal antara F.N dan Levy (Levy adalah jilbaber yang cukup galak tapi imut-imut gitulah kaya Kak Qoni banget may be).

Menurutku F.N lebih menarik, dikarakterkan sebagai kakak senior yang sok-sok’an gitu. Suka seenaknya sendiri ngerjain orang, terutama ngerjain Radith. 

Akhir-akhir ini aku jadi sensi, trus ikut2 kaya F.N sok-sok’an, ngga suka ngerjain orang juga sii. Hape mati seharian, banyak yang nyari, banyak nyekip notifikasi grup… 

Begitu hape nyala jadi begini. Itu SS tiga hari lalu, sekarang chat dan message nya lebih banyak lagi. Duh, jadi manusia bodo amat gini sebenernya ngga enak sii. 

Ini hape udah mau mati lagi. 

“Menulislah. Karena dengan kamu menulis, setidaknya dari jauh aku tahu dan dapat memastikan bahwa kamu baik-baik saja.” Kata Beta via line. Setelah bada magrib tadi menelfon Mawar yang terlanjur setengah demam.

Mawar baik-baik saja. Everything will be alright. Kalaupun sakit, semoga menjadi pengugur dosa.

Teman

img_20161214_110144.jpg

Ia spesies yang sama, pernah kujadikan foto profil whatsapp ketika tubuhnya menggelesot di rerumputan sekitar tempat ini. Individu yang sama juga. Saat itu aku sedang sendirian. Menanti entah apa. Lupa. Sambil membaca buku berjudul The Messiah Project yang hingga kini belum kelar hahaha.. Tiba-tiba Ia datang. Duduk di kursi sebelahku. Mungkin bermaksud menemaniku yang terlihat sendiri. Aku membidik sosoknya dengan kamera, tapi Ia berpaling.

Dasar, Fellis sp!!! Fellis Fabionensis Miko Spp.

Ketika bertekad menempuh jalan cinta-Nya. Kamu tak akan sendirian. Allah pasti memberimu teman seperjalanan. Meski sosoknya terkadang lebih abstrak dari yang kamu pikirkan.

(Kali) Ini Bukan Haiku

shutterstock_271332740

Jika harapan adalah lentera yang memastikan bahwa rasa syukur kita tidak pernah padam, bahwa keputusasaan dan pesimisme harus dibakar hidup-hidup. Maka, mimpi adalah sayap yang akan menerbangkan kita menuju ridho-Nya.

Mawar kembali mekar

Bersemi bersama pesona mimpinya

Mengakar bersama idealismenya

 

Lagit telah merajut benang-benang merah

Senja akan segera tiba

Penghujung hari

Tanggal akan berganti

Malam takkan lagi gelap

Saatnya menyambut malam penuh bintang

 

Mahasuci Allah yang membolak-balikan hati

Semoga Allah melunakkan hati yang keras

Semoga Allah mencairkan hati yang beku

Semoga Allah menggerakkan hati yang terdiam

Karena cinta dari malaikat tak bersayap itu adalah cinta yang pasti baik

Di telapak kakinya saja terdapat surga

Bagaimana mungkin tetesan air dari telaga cintanya tidak mengandung ketulusan…

 

Hai, Beta!!

Sebenarnya aku selalu berharap tulisan-tulisanku senantiasa merepresentasikan kebahagiaan. Sehingga tak perlu ada orang-orang yang susah payah dan repot-repot menghibur serta menyemangatiku setelah mereka membaca tulisan-tulisan di sini #songong.

Kata Lam, kita tidak perlu memikirkan kegelisahan Ibu, tentang sudah umur segini tapi belum juga memilih untuk memulai hidup baru. Takdir Allah itu diyakini, bukan untuk digelisahkan. Tenang saja. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing.

Satu hal yang paling kutakutkan adalah …

Ketika kamu datang…

Justru di saat aku mengharapkanmu

Melebihi harapanku akan ridho-Nya

Justru di saat aku mencintaimu

Melebihi cintaku pada-Nya

Satu hal yang paling menggelisahkan adalah …

Ketika aku merindukanmu 

Melebihi rinduku pada Syafaat Rasulullah

Di Yaumul Hisab nanti

Kehadiranmu yang belum juga sampai justru kerapkali menenangkan

Aku tidak ingin mendesakmu untuk segera datang

Aku juga tidak ingin mencegah kehadiranmu jika kamu memang ingin bersegera saat ini

Sudahlah…

Kubiarkan Allah membuat skenario terindah-Nya untuk mempertemukan kita

Terbang itu pilihan. Memilih terbang bukan berarti membuat pilihan untuk meninggalkanmu yang mungkin sedang berusaha menuju ke sini. Menjauh bukan berarti berniat untuk menghilang. Aku tidak  memutuskan untuk terbang ke kota di mana kamu tinggal, akupun tau bahwa kamu kemungkinan besar tak akan menyusulku ke Kota Satria atau berikhtiar membuat sebuah pertemuan di Kota Surga Buku. Mungkin saat ini, kita masih memilih jalan masing-masing. Masih menghabiskan ego masing-masing, masih menyelesaikan urusan masing-masing.  Meski sesungguhnya aku tak tau di mana kamu saat ini. Bisa jadi beberapa tahun lagi, ketika aku membaca tanggal postingan ini, saat itu aku akan mempertanyakan di mana kamu saat ini. Hahaha ..

Dari jauh, aku masih berlari mengejar mimpi-mimpi